Translate

Populer Posts

Tuesday, July 26, 2016

Kacang Kayu

Gude, kacang gude, kacang kayo, atau kacang bali (Cajanus cajan) adalah sejenis tanaman kacang-kacangan yang bersifat tahunan (perenial). Bijinya dapat dimakan dan menjadi sumber pangan alternatif. Tanaman ini relatif tahan panas dan kering sehingga cocok sebagai tanaman penghijauan kawasan kering. Di Indonesia, tumbuhan ini disebut binatung (Makassar), fouhate (Ternate dan Tidore), gude, kacang kayu, kacang gude (Jawa), kacang bali (Bahasa Melayu), kacang hiris (Sunda), kance (Bugis), kekace, undis (Bali), kacang iris, kacang turis, lebui, legui, puwe jai (Halmahera), tulis (Rote), tunis (Timor), ritik lias (Batak Karo), dan koloure (Tomia-Wakatobi).

Gude merupakan perdu dengan tinggi mencapai 3 m. Tumbuhan ini juga merupakan kacang tahunan dengan umur yang tidak terlalu panjang, hanya 1-5 tahun. Batangnya berbulu halus, dan bercabang banyak. Ia berbentuk bulat, beralur, berbulu, hijau kecokelatan. Daunnya ganda, beranak daun berjumlah tiga. Ada bulu-bulu halus baik pada bagian atas maupun bawahnya. Helai daun bulat telur sampai elips, tersebar, ujung dan pangkalnya runcing, tepinya rata, bentuk pertulangannya menyirip, dan warnanya hijau. Tangkainya pendek berwarna hijau. Bunganya berbentuk kupu-kupu, berwarna jingga, ataupun kecoklat-coklatan, dan ungu.  berjumlah majemuk, karangan bunga sepanjang 15-30 cm, serbuk sarinya berwarna kuning, putiknya satu, bengkok, mahkotanya berwarna kuning dan juga berbentuk kupu-kupu. Buahnya polong, dapat mencapai 7,5 cm, lurus/membengkok seperti sabit, membulat, memipih, menjorong/agak persegi. Biji berwarna putih, krim, coklat, ungu kehitaman, dan juga kecil. Akarnya tunggang, dan berwarna putih kotor.








 




  
Polong yang memecah, memperlihatkan biji.
Gude berkecambah 2-3 minggu setelah disemai di tanah. Apabila ditanam secara vegetatif, dia akan tumbuh secara lambat. Setelah 2-3 bulan, maka dia akan bertumbuh dengan akselerasi. Mulai berbunga 56-210 kemudian setelah penyemaian. Kacang gude berusia dewasa dalam waktu 95-256 hari dalam kondisi normal di waktu musim hujan pada waktu siang yang panjang. Apabila siangnya pendek, perpanjang tubuh tumbuhan akan melambat dan bunganya akan terakselerasi. Di Indonesia, musim berbunga dan berbuah mungkin terjadi sepanjang tahun. Sudah dapat dipanen dalam usia 5-8 bulan.Tanaman ini panen tiada mengenal musim.
Menurut Setijati Sastrapradja dkk. (1981), gude ditemukan di ditemukan di Afrika. Pusat keanekaragamannya yang kedua adalah berada di India. Sekarang, tumbuhan ini acapkali bisa ditemui di wilayah-wilayah tropis dan subtropis. Menurut catatan Prosea, gude berasal dari India, dan menyebar hingga Asia Tenggara. Gude sampai ke Afrika 2000 SM atau lebih awal daripada itu, dan mencapai Amerika lewat jalan perdagangan budak-budak Afrika dan sejumlah penaklukan di sana, dan datangnya gude ini diperkirakan melalui Atlantik dan Pasifik. Ia kini tumbuh di seluruh wilayah tropis, termasuk Anakbenua India dan Afrika Selatan, kemungkinan abad ke-17 Masehi.
Catatan-catatan lain menunjukkan bahwa kemungkinan ia memang datang dari India. Pusat persebarannya adalah bagian timur semenanjung India, termasuk wilayah Odisha, yang di sana ada kerabat liarnya (Mansi) yang dapat ditemui di hutan tropis. Penemuan arkeologis terhadap kacang bali didapati dalam dua situs Neolitik di Odisha, Gopalpur dan Golbai Sassan yang bertanggal sekitar 3.400 dan 3.000 tahun lalu, dan sebuah situs di India Selatan, Sanganakallu dan Tuljapur Garhi, yang juga bertanggal 3,400 tahun lalu. Dari India, ia sampai ke Afrika Timur dan Afrika Barat. Saat kacang ini didapati oleh orang Eropa, maka dari situlah kacang gude diberi nama Congo Pea (Kacang Kongo).
Di Indonesia, gude paling tidak sudah dibudiayakan di Pulau Jawa di Pulau Jawa sejak abad ke-6 Masehi. Budidaya gude secara luas belum pernah dilakukan, tapi kacang gude umumnya ditanam di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Wakatobi-Sulawesi Tenggara. Terutama di Jawa bagian timur, banyak ditemukan di huma-huma maupun kebun-kebun hingga pada ketinggian 2000 mdpl. Heyne mengatakan tumbuhan ini ditanam 1650 mdpl. Dia bisa dibudidayakan baik di negara-negara beriklim tropis maupun subtropis. Dahulu, di wilayah Sunda, tumbuhan ini ditanam baik di lahan kring ataupun tanggul untuk mengairi sawah. Di Jawa, gude ditanam sebagai tanaman pangan atau sebagai pupuk hijau. Dapat tumbuh dari dataran rendah hingga pada ketinggian 2000 mdpl dengan pH tanah 5-6,5. Kondisi suhu udara yang diperlukan adalah 18°-30° C. Pertumbuhannya membutuhkan banyak cahaya matahari dan tidak tahan terhadap kondisi lembap.Tanaman ini tahan kering.
Polongnya yang masih muda dipergunakan sebagai lalap, sayur ataupun rujak. Bijinya yang sudah tua digoreng dan bisa pula digunakan sebagai obat. Bisa pula polong tuanya ini dipergunakan untuk membuat tempe dan tahu sebagai pengganti kedelai, ataupun dipanggang. Pada masa Heyne dahulu (1916), dhal dianggap kurang berguna; sehingga kacang gude dipergunakan sebagai makanan dessert dengan rasa manis dan gurih. Daun muda bisa dimakan mentah sebagai lalab, direbus atau dikukus. Di Anakbenua India, kacang gude diambil polongnya dan dijadikan suatu masakan bernama dhal, bijinya yang segar dan bahkan putiknya dipakai untuk sayor (=sayur, sup berrempah). Cabang dan batang dipakai untuk bahan bakar dan keranjang. Sering dipergunakan sebagai tanaman peneduh sekaligus tanaman pangan, penahan angin (windbreak), atau tanaman peneduh bagi vanila. Gude juga memperbaiki keadaan tanah karena sistem perakarannya yang lebar, mengikat nitrogen bersama Rhizobium dan yang disediakan oleh daun yang jatuh. Di Madagaskar, gude yang disebut gude ini pula digunakan untuk makanan ulat sutra dan pengusir kutu lak untuk di Bengal Utara, dan Thailand.
Untuk kandungan kimia dan gizinya, diketahui bahwa: daun gude mengandung flavonoida, saponin, dan polifenol. Sedangkan batang mengandung flavonoida, saponin, dan tanin.[18] Menurut situs Globinmed.com, disebutkan lebih lengkap kandungan gizinya:2'-o-methylcajanone, 7-hydroxy-methoxyisolaflavone, alpha-copaene, beta-himachalene, cajaminose, cajanin, asam cajaninistilbene, cajaquinone, lupeol, orientin, asam fitat, pinostrobin, vitexin, dan lain-lain. Energi yang terkandung berkisar 1450 kJ/100 g. Biji segar mengandung vitamin, terutama provitamin A dan vitamin B kompleks.
Dalam pengobatan, gude juga sangat berguna; rebusan daun dari kacang gude dimanfaatkan dalam pengobatan. Heyne mempelajari bahwa di Buitenzorg (sekarang Bogor) bahwa di sana ia dipergunakan untuk mengobati gatal-gatal. Daun kacang gude dipergunakan untuk mengobati sakit kuning, sakit pada mulut, pernafasan, dan gangguan perut. Di Jawa, daun memang dipergunakan untuk mengobati demam, dan herpes. Akar dan biji juga tak kalah berguna; akar untuk mengobati cacingan, batuk berdahak, dan luka. Sementara, bijinya dipergunakan utnuk mengobati memar. Di beberapa wilayah di Afrika, tumbuhan ini dipakai untuk mengobati masalah pencernaan. Malahan, di Madagaskar tumbuhan ini dipakai untuk membersihkan gigi. Selain itu pula, tumbuhan ini dipakai untuk mengobati infeksi mata, sakit telinga, dan akarnya dipakai untuk pengobatan sipilis. Bijinya bersifat antikanker.

Sumber: Wikipedia

0 komentar:

Post a Comment